Kilang Cilacap Perkuat Budaya Berbagi Pengetahuan di Bulan Energi

narastya, Cilacap – Pengetahuan di dunia pengolahan energi tidak hanya tersimpan dalam prosedur dan dokumen, tetapi juga tumbuh dari pengalaman pekerja yang menghadapi berbagai dinamika operasional di lapangan. Semangat menjaga agar pengalaman tersebut terus mengalir menjadi pengetahuan bersama diwujudkan PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap melalui kegiatan Tacit Knowledge dalam rangka Bulan Energi 2026.

Kegiatan yang digelar selama dua hari di IG Room Head Office Kilang Cilacap ini diikuti puluhan pekerja dari berbagai fungsi. Hal itu mendapat apresiasi dari Pjs. Manager OPI RU Cilacap Ihya Ramadhanu yang mengatakan forum Tacit Knowledge menjadi ruang strategis untuk mentransfer pengalaman, wawasan, dan praktik kerja yang selamaini melekat pada individu agar dapat menjadi bekal bersama dalam mendukung keandalan operasional kilang.

“Pengalaman di lapangan sering kali melahirkan pengetahuan yang tidak seluruhnya dapat dituangkan secara detail dalam prosedur tertulis, padahal nilainya sangat besar bagi keberlangsungan operasi. Melalui form ini, pengetahuan itu dapat dibagikan, didiskusikan, dan menjadi pembelajaran bagi pekerja lainnya untuk terus meningkatkan kualitas proses kerja.” ujar Ihya.

whatsapp image 2026 10 08 at 15.26.43

Sejumlah pekerja berpengalaman hadir sebagai narasumber, yakni Section Head FOC II Rifa Tri Purnawan, Supervisor Optimization & Loss Control Hanif Nur Fauzi, Section Head OM 60 & NBM Tumin, dan Section Head OM 70 Abulais Samsuri. Materi yang dibawakan beragam, mulai dari energi, proses loading, hingga supply quantitative insurance yang dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab peserta.

SH FOC II Rifa Tri Purnawan menekankan bahwa transfer pengetahuan memiliki peran penting dalam menjaga kesinambungan kompetensi pekerja, khususnya terkait proses operasional yang membutuhkan pemahaman teknis sekaligus pengalaman lapangan. “Melalui diskusi seperti ini, kami tidak hanya berbagi tentang bagaimana sebuah proses dijalankan, namun juga alasan di balik setiap langkah, pengalaman menghadapi kondisi tertentu, serta pembelajaran yang dapat membantu pekerja mengambil keputusan secara lebih tepat,” jelasnya.

Ketua Bulan Energi 2026, Ipuk Suseno menyampaikan bahwa pelaksanaan Tacit Knowledge sejalan dengan semangat Bulan Energi untuk memperkuat kepedulian sekaligus pemahaman pekerja terhadap energi dari berbagai perspektif. Menurutnya, Bulan Energi diharapkan tidak berhenti sebagai rangkaian kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum membangun budaya belajar, berbagi, dan berinovasi di lingkungan Kilang Cilacap.

Melalui Tacit Knowledge, Kilang Cilacap terus mendorong pengetahuan dan pengalaman pekerja agar tidak berhenti pada individu, tetapi berkembang menjadi aset pembelajaran organisasi yang dapat diwariskan lintas generasi. Semangat berbagi tersebut sekaligus memperkuat Bulan Energi sebagai ruang kolaborasi untuk menjaga kompetensi pekerja, keandalan operasional, serta keberlanjutan pengelolaan energi di Kilang Cilacap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PESAT Gada Pratama, Suntikan Semangat Pertamina untuk Pemuda di Sekitar Kilang

narastya, Cilacap – Bagi Ranggi Kafi Syafii, kesempatan untuk mengikuti Pelatihan dan Sertifikasi (PESAT) Gada Pratama menjadi pengalaman yang sangat penting. Pemuda asal Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah, ini melihatnya sebagai langkah awal untuk menyiapkan diri menyambut dunia kerja.

Alumni SMK Dr. Soetomo Cilacap tahun 2026 tersebut menjadi satu dari 35 pemuda terpilih mengikuti PESAT Gada Pratama yang diselenggarakan Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap di Balai Latihan Kerja (BLK) Cilacap.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur terpilih mengikuti pelatihan ini. Bagi saya, pelatihan ini sangat penting untuk menambah skill dan pengalaman yang nantinya sangat bermanfaat untuk memasuki dunia kerja, khususnya di bidang sekuriti,” ujar Ranggi.

Bagi Ranggi dan peserta lain, sembilan hari pelatihan menjadi kesempatan berharga untuk belajar sekaligus mempersiapkan mental menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya. Ia pun menyampaikan apresiasinya kepada Pertamina yang telah membuka kesempatan tersebut bagi para pemuda.

“Terima kasih kepada Pertamina yang telah memberikan kesempatan berharga ini kepada saya,” lanjutnya.

Semangat Ranggi menjadi bukti, kehadiran industri di tengah masyarakat tidak hanya aktivitas operasional, tetapi keberadaannya dapat memberikan manfaat dan membuka ruang tumbuh bagi generasi muda di lingkungan terdekat.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU Cilacap, Agustiawan saat pembukaan PESAT, Selasa (6/10/2026) menekankan, dalam pelatihan ini ada nilai dasar yang harus dibawa oleh setiap peserta, yakni integritas, disiplin, dan tanggung jawab.

“Nilai-nilai integritas, disiplin, dan tanggung jawab ini bukan hanya selama pelatihan, tetapi juga setelah pelatihan selesai dan ketika nantinya memasuki dunia kerja,” kata Agustiawan.

Karena itu, ia berpesan kepada seluruh peserta agar mengikuti setiap tahapan pelatihan dengan serius dan sungguh-sungguh. Menurutnya, kesempatan yang diperoleh 35 peserta tersebut merupakan bekal penting untuk menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya.

“Adik-adik adalah 35 peserta terpilih. Ikuti pelatihan ini dengan serius dan sungguh-sungguh. Jadikan setiap materi dan pengalaman yang diperoleh sebagai bekal untuk memasuki dunia kerja,” pesannya.

Ditambahkan, perkembangan industri termasuk di Kabupaten Cilacap, turut mendorong kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang semakin andal. Tidak hanya memiliki kompetensi, tetapi juga menjunjung tinggi integritas dan kedisiplinan.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian Kabupaten Cilacap, Farid Rijanto, mengapresiasi komitmen dan kepedulian Pertamina yang kembali menyelenggarakan pelatihan bagi para pemuda.

“Program ini memiliki arti penting karena memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk meningkatkan kapasitas diri dan menjawab kebutuhan industri,” jelasnya.

Pelatihan PESAT Gada Pratama berlangsung selama sembilan hari di BLK Cilacap. Dalam pelaksanaannya, Pertamina Patra Niaga RU Cilacap melibatkan tim dari Polresta Cilacap sebagai pemateri.

Melalui PESAT Gada Pratama, Pertamina Patra Niaga RU Cilacap memastikan semakin banyak pemuda di sekitar operasional kilang memiliki kesempatan untuk mendapatkan bekal, percaya diri, dan keberanian untuk memasuki dunia kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lima Tahun MAMAKU: Dari Ruang Pemberdayaan menjadi Destinasi Wisata dan Penggerak Ekonomi Kutawaru

narastya, Cilacap – Perahu perlahan bergerak meninggalkan tepian. Di seberang, hamparan mangrove dan perairan Segara Anakan menjadi pemandangan pembuka sebelum menuju Kampoeng Kepiting, Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah.

Bagi sebagian orang, perjalanan itu mungkin sekadar wisata. Namun bagi masyarakat Kutawaru, pemandangan ini menyimpan cerita panjang tentang pemberdayaan yang tumbuh menjadi penghidupan baru.

Cerita itu bernama Masyarakat Mandiri Kutawaru (MAMAKU).

Lima tahun berjalan, Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap kembali melakukan monitoring dan evaluasi (monev), Selasa (29/9/2026). Kegiatan tahunan ini untuk melihat kembali perjalanan program dan memastikan pendampingan berdampak nyata dan terus berkembang di masyarakat.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU Cilacap, Agustiawan, mengatakan monev menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan program.

“Dari perjalanan ini, kami melihat perubahan dan peningkatan kapasitas masyarakat. Yang sebelumnya bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) maupun Anak Buah Kapal (ABK), kini memiliki alternatif kegiatan ekonomi yang justru menjadi kegiatan utama,” ujarnya.

Perubahan paling terasa ketika melihat Kampoeng Kepiting. Kawasan yang dahulu menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat pesisir kini menjelma menjadi wisata terpadu. Pengunjung tidak hanya datang dari Cilacap, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara.

Alam menjadi daya tarik utamanya. Hamparan kawasan pesisir, suasana kampung, hingga sajian kuliner khas berbahan kepiting menjadi pengalaman yang ditawarkan masyarakat kepada para pengunjung.

Di balik pemandangan, ada proses panjang pemberdayaan. MAMAKU terus berkembang mengikuti kebutuhan dan potensi masyarakat. Budidaya kepiting cangkang lunak kemudian menjadi salah satu ikon Kampoeng Kepiting.

Pengembangan kawasan juga dilengkapi fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) serta Rumah Susun Kepiting Berbasis Energi (RUSUN TINGGI), sebuah inovasi yang menjadi bagian dari pengembangan budidaya kepiting.

Cerita MAMAKU tidak berhenti di kawasan wisata. Masyarakat mengembangkan pasar tradisional Mingguan Amarta sebagai ruang aktivitas ekonomi. Pasar yang digelar secara berkala tersebut kini mampu mencatat omzet ratusan juta rupiah.

Di sektor pertanian dan peternakan, terdapat Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Kunang-kunang yang dikembangkan antara lain melalui peternakan burung puyuh.

whatsapp image 2026 10 06 at 12.34.08

Sementara itu, kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan melalui Bank Sampah Abhipraya, yang mengajak masyarakat melihat sampah sebagai potensi ekonomi. Terlebih kelurahan ini terpisah perairan Segara Anakan sehingga menyulitkan akses menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di wilayah kota.

Bagi Rato, Local Hero MAMAKU, perjalanan ini menjadi proses pembelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar pengembangan kegiatan ekonomi.

“Harapan kami, dukungan dari Pertamina selama ini bisa menjadi pemicu bagi masyarakat untuk terus menjaga dan mengembangkan MAMAKU agar tetap berkelanjutan,” tutur Rato.

Dari sisi pemerintahan kelurahan, program MAMAKU juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pemberdayaan masyarakat Kutawaru.

Lurah Kutawaru, Edy Harjanto, mengapresiasi perhatian dan dukungan Pertamina yang selama ini terus diberikan kepada masyarakat, terutama karena Kutawaru berada di sekitar wilayah operasional kilang.

“Pertamina sudah banyak memberikan kepedulian dalam pemberdayaan masyarakat Kutawaru. Ini menjadi bukti sinergi yang kuat. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus terjaga dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Monev MAMAKU yang juga dihadiri perwakilan dinas terkait, Perhimpunan Hotel & Restauran Indonesia (PHRI) Cilacap, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Cilacap, akademisi, serta pelaksana program MAMAKU, menjadi kesempatan untuk menengok kembali perjalanan sebuah kampung yang sedang membangun masa depannya sendiri.

Dari kepiting cangkang lunak hingga pasar mingguan, dari energi surya hingga bank sampah, dari peternakan puyuh hingga wisata pesisir. Semua tumbuh dalam satu cerita yang sama, masyarakat yang belajar untuk berdaya, lalu bergerak untuk mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LENTERA Cibeunying: Nyalakan Harapan, Tumbuhkan Kemandirian Penyintas

narastya, Cilacap – Bencana tanah longsor yang melanda Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, pada November 2025, telah berlalu. Namun, bagi warga yang kehilangan tempat tinggal dan harus memulai kehidupan dari awal, perjuangan untuk bangkit masih terus berlangsung.

Sejak Februari 2026, para penyintas bencana tersebut menempati hunian sementara (huntara) di Desa Jenang, Kecamatan Majenang. Di tempat inilah, mereka perlahan menata kembali kehidupan, merajut harapan, sekaligus beradaptasi dengan lingkungan baru.

Di tengah perjalanan panjang pemulihan itu, PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap terus hadir mendampingi masyarakat. Tak sekadar memberikan bantuan saat bencana terjadi, Pertamina kini mendorong para penyintas untuk kembali produktif, mengembangkan potensi, dan membangun kemandirian ekonomi.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran program Lahan Terpadu Pemberdayaan Ekonomi Huntara (LENTERA) Cibeunying, Senin (28/9/2026). Program ini menjadi langkah nyata Kilang Cilacap dalam menghadirkan peluang usaha produktif sekaligus menumbuhkan semangat baru bagi masyarakat penyintas bencana.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU Cilacap, Agustiawan, menyampaikan pendampingan terhadap penyintas bencana Cibeunying merupakan komitmen berkelanjutan, yang tidak berhenti pada fase tanggap darurat.

Sejak awal bencana, Pertamina hadir melalui berbagai dukungan, mulai dari bantuan logistik, pendampingan psikososial, hingga kegiatan trauma healing bersama para relawan.

Bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Pertamina juga mendukung peresmian program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) serta menyalurkan 134 paket pendidikan bagi anak-anak penyintas.

“Pemulihan pascabencana bukan hanya memastikan masyarakat memiliki tempat tinggal dan kebutuhan dasar yang terpenuhi. Lebih dari itu, kami ingin memastikan mereka memiliki kesempatan untuk kembali produktif, mengembangkan potensi, dan membangun kehidupan yang lebih mandiri,” ujar Agustiawan.

Melalui LENTERA Cibeunying, Kilang Cilacap menghadirkan konsep eco farm terpadu yang mengintegrasikan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan. Konsep ini dirancang agar dapat dikelola secara berkelompok oleh masyarakat, sekaligus menjadi sarana pembelajaran dan pengembangan aktivitas ekonomi produktif di lingkungan huntara.

Di bidang pertanian, Pertamina membangun enam raised bed atau bedengan tanam berukuran 14 x 1 meter yang dilengkapi sistem irigasi tetes. Teknologi ini diharapkan dapat membantu mengoptimalkan penggunaan air sekaligus mendukung kegiatan budidaya tanaman hortikultura.

Di sektor perikanan, 50 unit Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber) ikan lele disiapkan dengan sistem aerasi dan sirkulasi air. Menariknya, bagian atas ember juga dimanfaatkan untuk menanam tanaman hortikultura, sehingga masyarakat dapat mengembangkan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem yang terintegrasi.

Sementara itu, di sektor peternakan, Pertamina memberikan dua paket ayam petelur siap bertelur, masing-masing terdiri atas 10 ekor ayam betina dan dua ekor ayam jantan. Dukungan tersebut dilengkapi dengan 50 ekor ayam petelur berusia tiga minggu serta kandang yang dirancang untuk memudahkan proses pemantauan dan perawatan oleh kelompok Tangguh Mekar Jaya.

Tak hanya berfokus pada kegiatan budidaya, LENTERA juga memperhatikan ketersediaan air bersih sebagai salah satu kebutuhan penting dalam menunjang aktivitas masyarakat. Pertamina memberikan bantuan toren air untuk mendukung operasional eco farm, serta paket sumur bor melalui kolaborasi dengan Serikat Pekerja Pertamina Patra Wijayakusuma (SPP PWK) dan Siaga Peduli.

Dukungan ini diharapkan dapat menjadi modal awal bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan produktif secara berkelanjutan.

Sekretaris BPBD Cilacap Erni Suharti, mengapresiasi konsistensi Pertamina dalam mendampingi masyarakat penyintas bencana Cibeunying sejak masa tanggap darurat pada November 2025 hingga saat ini.

Menurutnya, kepedulian yang diberikan Pertamina tidak hanya dirasakan pada saat masyarakat menghadapi kondisi darurat, tetapi juga berlanjut melalui berbagai upaya pemulihan dan pemberdayaan yang menjawab kebutuhan warga.

“Program LENTERA jelas memberikan manfaat nyata bagi para penyintas, khususnya dalam membuka peluang ekonomi dan memperkuat kemandirian masyarakat selama menempati hunian sementara. Terimakasih Pertamina,” ujarnya.

Bagi para penyintas Cibeunying, perjalanan untuk bangkit mungkin masih panjang. Namun, melalui dukungan, kolaborasi, dan semangat kebersamaan, harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik terus tumbuh.

Melalui LENTERA Cibeunying, Pertamina Patra Niaga RU Cilacap menegaskan, kepedulian terhadap masyarakat tidak berhenti ketika masa tanggap darurat usai. Sebaliknya, kepedulian itu terus menyala, menemani setiap langkah pemulihan, hingga masyarakat mampu kembali berdiri, produktif, dan mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dari Gagasan Menjadi Gerakan, Wijayakusuma Awards 2026 RU Cilacap Rayakan Inovasi yang Menghidupkan Harapan

narastya, Cilacap – Di balik setiap inovasi, ada cerita kepedulian, perjuangan, dan harapan untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik. Dari tangan-tangan kreatif, lahir gagasan yang tak hanya menjawab persoalan, tetapi membuka jalan perubahan.

Kisah-kisah itulah yang menemukan panggungnya dalam puncak penganugerahan Wijayakusuma Awards 2026, sebuah perayaan atas semangat inovasi dan pemberdayaan masyarakat yang digelar Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap di Gedung Patra Graha, Jumat malam (25/6/2026).

Malam penganugerahan itu menjadi ruang bagi penggerak perubahan untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, sekaligus membuktikan bahwa inovasi bisa tumbuh dari persoalan sederhana yang dekat dengan keseharian, keresahan yang sama, hingga kepedulian untuk tidak membiarkan masalah terus berlarut.

Sebanyak 75 inovasi sosial dari Kabupaten Cilacap, wilayah eks Karesidenan Banyumas, serta Kabupaten Kebumen mengikuti perjalanan Wijayakusuma Awards 2026. Sejak tahapan awal pada Juni 2026, puluhan gagasan diseleksi untuk menemukan inovasi-inovasi yang memiliki dampak dan potensi keberlanjutan.

Sebanyak 15 inovasi dari Cilacap dan 10 inovasi dari luar Cilacap kemudian melaju ke tahap presentasi pada Agustus, sebelum akhirnya terpilih lima inovasi terbaik dari Cilacap dan tiga inovasi terbaik dari luar Cilacap.

Di antara puluhan gagasan yang hadir, masing-masing membawa cerita dan perjuangan. Ada yang berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan, optimalisasi potensi pangan, penguatan ekonomi masyarakat, hingga pemanfaatan teknologi untuk menjawab kebutuhan publik.

Inovasi dari Kepedulian
Dari Kabupaten Cilacap, inovasi Sirkular Berdaya RW 14 Kelurahan Sidanegara berhasil meraih predikat terbaik pertama. Disusul Sahabat Batik Hijau dari Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (Unugha) di posisi kedua, serta Rumah Hasna (Hargai Sisa Nasi Anda) sebagai terbaik ketiga.

Sementara itu, inovasi pembuatan aplikasi JelantaHub meraih harapan kedua dan inovasi tepung Mocaf karya Lapas Kelas IIB Nirbaya, Nusakambangan, meraih harapan pertama.

whatsapp image 2026 09 29 at 19.08.08

Kategori luar Cilacap, Smart Fisheries Village dari Panembangan, Kabupaten Banyumas, sukses meraih terbaik pertama. Posisi kedua diraih inovasi pertanian Satria Nawasena dari Banjarnegara, sedangkan inovasi pengelolaan penderes Nira Brilian dari Purbalingga menempati posisi ketiga.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU Cilacap, Agustiawan, menyampaikan Wijayakusuma Awards 2026 merupakan ajang perdana yang dirancang untuk menampung, menjaring, sekaligus memperkenalkan berbagai inovasi yang lahir dari masyarakat agar semakin dikenal dan berkembang.

Masyarakat memiliki potensi dan kreativitas yang luar biasa. Melalui ruang apresiasi seperti Wijayakusuma Awards, berbagai praktik baik di masyarakat dapat memperoleh perhatian lebih luas, serta membuka peluang untuk direplikasi dan dikembangkan.

“Kami tidak hanya hadir sebagai penyedia energi, tetapi juga konsisten memberdayakan. Bukan hanya memberikan dana hibah, melainkan menghadirkan energi agar masyarakat terus tumbuh, berdaya, dan mampu mengembangkan inovasinya secara berkelanjutan,” ungkap Agustiawan.

Baginya, keberhasilan sebuah program pemberdayaan tidak semata-mata diukur dari besarnya dukungan yang diberikan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat mampu melanjutkan, mengembangkan, dan menjaga manfaat program tersebut secara mandiri.

Merawat Inovasi, Menumbuhkan Keberlanjutan
Executive General Manager RU Cilacap, Hermawan Budiantoro, berharap inovasi yang telah dihasilkan masyarakat mampu tumbuh, berkelanjutan, dan menginspirasi lebih banyak pihak untuk melakukan hal serupa.

“Wijayakusuma Awards bukan sekadar kompetisi. Namun sebagai ruang pertemuan bagi berbagai gagasan, pengalaman, dan praktik baik yang berpotensi menghadirkan perubahan positif di tengah Masyarakat,” tegasnya.

Dukungan terhadap inovasi masyarakat juga mendapat sambutan dari Pemerintah Kabupaten Cilacap. Plt. Bupati Cilacap, Ammy Amalia Fatma Surya, melalui Asisten II Sekda Cilacap, Ferry Adhi Dharma, menyampaikan apresiasi dan antusiasme atas inisiatif RU Cilacap menggagas Wijayakusuma Awards.

“Pemkab berharap Wijayakusuma Awards dapat diselenggarakan secara rutin sehingga semakin banyak inovator memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan karya, mengembangkan gagasan, serta memperluas dampak positif bagi masyarakat,” ungkapnya.

Melalui Wijayakusuma Awards, Pertamina Patra Niaga RU Cilacap menegaskan semangat tersebut tidak berhenti pada malam penganugerahan. Apresiasi menjadi pintu pembuka untuk kolaborasi yang lebih luas, pemberdayaan yang semakin kuat, dan inovasi yang terus bertumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dari Cahaya Matahari, Menjaga Asa Budidaya Sidat di Panikel

narastya, Cilacap – Matahari menjadi salah satu sumber kehidupan bagi masyarakat. Bagi kelompok pengelola Pusat Budidaya dan Edukasi Ikan Sidat (PUSAKA) di Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut, sinar matahari kini memiliki arti lebih dari sekadar penerang siang hari.

Dari energi yang dipancarkan matahari, budidaya ikan sidat di perlahan menemukan jalan menuju kemandirian energi.

Di area tambak PUSAKA, energi surya dimanfaatkan untuk menggerakkan dua unit aerator yang menopang kebutuhan budidaya. Energi yang sama juga menghidupkan Learning Center, CCTV, hingga penerangan jalan menuju dan di sekitar kawasan tambak.

Semua itu dimungkinkan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6.500 Wp yang dikembangkan sebagai bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap.

Lebih dari menggantikan sumber Listrik, kini da harapan yang lebih besar, menjaga agar kegiatan ekonomi produktif terus berjalan, sekaligus mengurangi beban biaya operasional.

Dalam penggunaannya, PLTS mendukung operasional dua unit aerator pada dua area kolam tambak selama sekitar 12 jam setiap hari. Energi surya juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik Learning Center, CCTV, dan penerangan di sekitar lokasi.

Dari pemanfaatan tersebut, terdapat potensi penghematan biaya energi sekitar Rp1,3 juta setiap bulan. Jika dihitung dalam setahun, efisiensi tersebut dapat mencapai sekitar Rp15,6 juta.

Meski terlihat sederhana, penghematan ini menjadi ruang tambahan tambahan untuk pengembangan di tengah upaya membangun kemandirian kelompok dan menjaga keberlangsungan budidaya. Energi matahari pun akhirnya bertemu dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Cerita PUSAKA tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Tantangan berikutnya adalah memastikan semua yang telah dibangun dapat terus dimanfaatkan dan berkembang.

Karena itu, PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap melakukan monitoring dan evaluasi Program TJSL PUSAKA di Learning Center PUSAKA, Senin (21/9/2026).

Kegiatan ini melibatkan Pemerintah Desa Panikel, Koperasi Mina Sidat Bersatu, BUMDes Desa Panikel, kelompok PUSAKA, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Agustiawan, mengatakan monitoring dan evaluasi ini untuk memastikan PUSAKA memiliki fondasi yang kuat untuk terus berjalan secara mandiri.

“Monev untuk melihat secara langsung perkembangan Program PUSAKA, termasuk capaian dan kendala yang dihadapi pengelola. Kami bersama stakeholder merumuskan langkah tindak lanjut agar program semakin mandiri dan berkelanjutan,” ujar Agustiawan.

Menurutnya, keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dengan menghadirkan sarana dan prasarana. Pengelolaan, keterlibatan masyarakat, kelembagaan lokal, hingga pemanfaatan teknologi harus berjalan bersama.

Ketika Energi Menjadi Harapan

Pengembangan PUSAKA menjadi ruang belajar dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, keberadaan Learning Center menjadi bagian penting dari program.

Pemanfaatan PLTS kemudian memberikan dimensi lain, energi bersih menjadi bagian dari upaya memperkuat aktivitas ekonomi sekaligus fasilitas masyarakat. Konsep inilah yang menjadi bagian dari upaya mewujudkan Desa Energi Berdikari di Desa Panikel.

Energi yang sebelumnya harus dibeli untuk menopang kegiatan, kini sebagian kebutuhan dapat dipenuhi dari cahaya matahari.

Bagi Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong program pemberdayaan yang tidak hanya menghasilkan manfaat dalam jangka pendek, tetapi juga memiliki keberlanjutan.

Di Panikel, cahaya matahari akhirnya memiliki cerita lain. Ia tidak hanya menerangi jalan dan bangunan, tetapi ikut menghidupkan aerator, menjaga aktivitas tambak, menekan biaya energi, dan membuka ruang bagi masyarakat untuk terus mengembangkan usaha.Dari Cahaya Matahari, Menjaga Asa Budidaya Sidat di Panikel

Cilacap, 25 September 2026 – Matahari menjadi salah satu sumber kehidupan bagi masyarakat. Bagi kelompok pengelola Pusat Budidaya dan Edukasi Ikan Sidat (PUSAKA) di Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut, sinar matahari kini memiliki arti lebih dari sekadar penerang siang hari.

Dari energi yang dipancarkan matahari, budidaya ikan sidat di perlahan menemukan jalan menuju kemandirian energi.

Di area tambak PUSAKA, energi surya dimanfaatkan untuk menggerakkan dua unit aerator yang menopang kebutuhan budidaya. Energi yang sama juga menghidupkan Learning Center, CCTV, hingga penerangan jalan menuju dan di sekitar kawasan tambak.

Semua itu dimungkinkan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6.500 Wp yang dikembangkan sebagai bagian dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap.

Lebih dari menggantikan sumber Listrik, kini da harapan yang lebih besar, menjaga agar kegiatan ekonomi produktif terus berjalan, sekaligus mengurangi beban biaya operasional.

Dalam penggunaannya, PLTS mendukung operasional dua unit aerator pada dua area kolam tambak selama sekitar 12 jam setiap hari. Energi surya juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan listrik Learning Center, CCTV, dan penerangan di sekitar lokasi.

Dari pemanfaatan tersebut, terdapat potensi penghematan biaya energi sekitar Rp1,3 juta setiap bulan. Jika dihitung dalam setahun, efisiensi tersebut dapat mencapai sekitar Rp15,6 juta.

Meski terlihat sederhana, penghematan ini menjadi ruang tambahan tambahan untuk pengembangan di tengah upaya membangun kemandirian kelompok dan menjaga keberlangsungan budidaya. Energi matahari pun akhirnya bertemu dengan aktivitas ekonomi masyarakat.

Cerita PUSAKA tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Tantangan berikutnya adalah memastikan semua yang telah dibangun dapat terus dimanfaatkan dan berkembang.

Karena itu, PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap melakukan monitoring dan evaluasi Program TJSL PUSAKA di Learning Center PUSAKA, Senin (21/9/2026).

Kegiatan ini melibatkan Pemerintah Desa Panikel, Koperasi Mina Sidat Bersatu, BUMDes Desa Panikel, kelompok PUSAKA, serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, Agustiawan, mengatakan monitoring dan evaluasi ini untuk memastikan PUSAKA memiliki fondasi yang kuat untuk terus berjalan secara mandiri.

“Monev untuk melihat secara langsung perkembangan Program PUSAKA, termasuk capaian dan kendala yang dihadapi pengelola. Kami bersama stakeholder merumuskan langkah tindak lanjut agar program semakin mandiri dan berkelanjutan,” ujar Agustiawan.

Menurutnya, keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat tidak cukup hanya dengan menghadirkan sarana dan prasarana. Pengelolaan, keterlibatan masyarakat, kelembagaan lokal, hingga pemanfaatan teknologi harus berjalan bersama.

Ketika Energi Menjadi Harapan

Pengembangan PUSAKA menjadi ruang belajar dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, keberadaan Learning Center menjadi bagian penting dari program.

Pemanfaatan PLTS kemudian memberikan dimensi lain, energi bersih menjadi bagian dari upaya memperkuat aktivitas ekonomi sekaligus fasilitas masyarakat. Konsep inilah yang menjadi bagian dari upaya mewujudkan Desa Energi Berdikari di Desa Panikel.

Energi yang sebelumnya harus dibeli untuk menopang kegiatan, kini sebagian kebutuhan dapat dipenuhi dari cahaya matahari.

Bagi Pertamina Patra Niaga RU Cilacap, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong program pemberdayaan yang tidak hanya menghasilkan manfaat dalam jangka pendek, tetapi juga memiliki keberlanjutan.

Di Panikel, cahaya matahari akhirnya memiliki cerita lain. Ia tidak hanya menerangi jalan dan bangunan, tetapi ikut menghidupkan aerator, menjaga aktivitas tambak, menekan biaya energi, dan membuka ruang bagi masyarakat untuk terus mengembangkan usaha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Respon Krisir Air Bersih, Pekerja Pertamina Patra Niaga RU Cilacap Hadirkan Akses Air Bersih di Desa Cipari

narastya, Cilacap – Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Cilacap berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Salah satunya dirasakan warga Desa Cipari, Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap, yang menghadapi keterbatasan akses air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Merespon kondisi ini, Keluarga Besar Pekerja PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap berkolaborasi dengan Relawan Pertamina Peduli (RELPI), Baituzzakah Pertamina (BAZMA), Komunitas RODA PATRA, dan Panitia Bulan Energi menghadirkan Program Wakaf Sumur Cerdas Energi.

Ini dilakukan dengan pembangunan sumur bor dan pemasangan tandon air berkapasitas 1.000 liter bagi Musholla Baitussalam dan warga Desa Cipari.

Selain menghadirkan sarana penyediaan air bersih, kegiatan pada 20 September 2026 tersebut juga diisi dengan sharing knowledge Cerdas Energi bertajuk “Bijak Menggunakan Energi”.

Edukasi ini sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan energi secara bijak, termasuk dalam menjaga dan memanfaatkan sumber daya air yang tersedia di lingkungan sekitar.

whatsapp image 2026 09 23 at 10.06.38

Area Manager Communication, Relations & CSR RU Cilacap, Agustiawan, mengatakan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian Keluarga Besar Pekerja Pertamina Patra Niaga RU Cilacap terhadap masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses air bersih selama musim kemarau.

“Melalui Program Wakaf Sumur Cerdas Energi, kami berupaya menghadirkan akses air yang dapat dimanfaatkan masyarakat sekaligus memberikan edukasi mengenai pentingnya menggunakan energi dan sumber daya air secara bijak,” ujar Agustiawan.

Menurutnya, keberadaan sumur bor dan tandon air diharapkan tidak hanya menjadi solusi atas kebutuhan air bersih saat ini, tetapi juga dapat dimanfaatkan dan dijaga keberlanjutannya oleh masyarakat.

“Semoga fasilitas ini dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang. Karena itu, selain membangun fasilitas air bersih, kami juga berbagi pengetahuan agar masyarakat memiliki kesadaran untuk menggunakan dan merawat fasilitas tersebut dengan baik, serta menjaga sumber daya air di lingkungannya,” lanjut Agustiawan.

Aminudin, selaku perwakilan Musholla Baitussalam dan penerima bantuan, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh Keluarga Besar Pekerja PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap beserta para mitra pelaksana program.

“Bantuan ini sangat bermanfaat bagi Musholla Baitussalam dan warga sekitar, terutama di tengah kondisi musim kemarau yang menyebabkan keterbatasan air bersih. Kami berharap fasilitas ini dapat menjadi amal jariyah dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat,” ungkapnya.

Melalui program tersebut, Pertamina Patra Niaga RU Cilacap tidak hanya berupaya membantu pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat berupa akses air bersih, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran mengenai penggunaan energi dan sumber daya secara bijak. Dengan demikian, manfaat bantuan diharapkan dapat terus dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Safety Bukan Sekadar SOP, Kilang Cilacap Konsisten Perkuat Budaya HSSE

narastya, Cilacap – Di tengah tuntutan industri energi yang terus bergerak, keselamatan bukan sekadar persoalan bagaimana pekerjaan diselesaikan, tetapi bagaimana setiap orang memastikan dirinya dan rekan kerja dapat pulang dengan selamat. Semangat inilah yang terus dijaga Kilang Cilacap melalui penguatan budaya safety, salah satunya lewat Management Walk Through (MWT) yang dilakukan secara rutin dan melibatkan jajaran pimpinan hingga pekerja di lapangan.

Komitmen tersebut kembali terlihat dalam kunjungan Senior Vice President (SVP) HSSE PT Pertamina (Persero) I Ketut Laba yang melaksanakan MWT di PT Pertamina Patra Niaga RU Cilacap. Kegiatan ini menjadi momentum untuk melihat secara langsung penerapan aspek keselamatan sekaligus berdialog dengan insan kilang mengenai praktik HSSE di area kerja, Rabu (16/9/2026).

MWT sudah menjadi agenda rutin yang dilakukan Kilang Cilacap setiap hari Rabu guna memastikan seluruh operasional kilang dapat terpantau langsung oleh pimpinan atau jajaran manajemen. Sebelum turun ke lapangan, MWT selalu diawali dengan sesi Health Talk dan Leader Insight sebagai ruang untuk membangun kesadaran kesehatan, berbagi pesan keselamatan, serta memperkuat kepemimpinan dalam penerapan budaya HSSE.

Dalam rangkaian MWT, I Ketut Laba bersama jajaran manajemen meninjau sejumlah area, mulai dari Kilang TDHT, Kilang FOC I, HSSE Demo Room hingga Digital Center. Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat kondisi aktual di lapangan, memastikan penerapan prosedur berjalan sebagaimana mestinya, serta mengidentifikasi hal-hal yang dapat terus ditingkatkan dari sisi keselamatan.

Executive General Manager (EGM) RU Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan, budaya safety di Kilang Cilacap dibangun melalui konsistensi dan keterlibatan seluruh pekerja, bukan hanya melalui aturan tertulis. “Kami memastikan setiap aktivitas dilaksanakan sesuai SOP dan prosedur yang berlaku, namun yang lebih penting adalah bagaimana prosedur tersebut menjadi bagian dari perilaku sehari-hari, sehingga setiap pekerja memiliki kesadaran bahwa safety merupakan tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Hermawan menambahkan, MWT menjadi salah satu sarana penting bagi manajemen untuk hadir langsung di lapangan dan mendengarkan kondisi aktual dari para pekerja. “Dengan turun langsung, kami dapat melihat, berdiskusi, dan bersama-sama mencari peluang perbaikan agar aspek keselamatan selalu menjadi pertimbangan utama dalam setiap pekerjaan,” katanya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi antara SVP HSSE PT Pertamina (Persero) bersama tim manajemen Kilang Cilacap yang membahas berbagai aspek safety dan upaya penguatan penerapannya di seluruh lini operasi. I Ketut Laba mengapresiasi konsistensi Kilang Cilacap dalam menjaga budaya safety melalui MWT, keterlibatan pimpinan, serta penerapan prosedur di lapangan. “Apa yang dilakukan di Kilang Cilacap menunjukkan bahwa safety tidak berhenti pada prosedur, tetapi terus dikawal melalui leadership, engagement, dan kedisiplinan dalam pelaksanaannya,” ungkapnya.

Kilang Cilacap meyakini budaya safety tumbuh dari hal-hal yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Melalui MWT, keteladanan pimpinan dan keterlibatan pekerja terus dipertemukan di lapangan untuk memastikan setiap pekerjaan dilakukan dengan disiplin menjalankan prosedur, serta keberanian untuk saling mengingatkan dan melakukan perbaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17 Tahun Berkarya, Saatnya Perwira Pertamina Kilang Cilacap Sisihkan Bahagia untuk Sesama

narastya, Cilacap – Ada banyak cara merayakan perjalanan panjang pengabdian. Bagi sejumlah perwira Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap yang tergabung dalam Bimbingan Praktis Ahli Teknik (BPAT) II 2009, 17 tahun berkarya bukan sekadar rentang waktu, namun menjadi refleksi perjalanan yang menghadirkan manfaat bagi sesama.

Para perwira Pertamina itu memilih berbagi kebahagiaan bersama anak-anak Panti Asuhan Khoiru Ummah, di Jalan Argosari, Sidanegara, Cilacap Tengah, serta Rumah Yatim dan Dhu’afa – Al Husna, Maos – Cilacap, Sabtu (12/9/2026).

Suasana sederhana di panti asuhan menjadi ruang bagi mereka untuk kembali mengingat perjalanan 17 tahun sejak bersama-sama memulai pengabdian di Pertamina. Ada cerita kebersamaan, tantangan pekerjaan, persahabatan, hingga perjalanan karier yang membawa sebagian rekan kini bertugas di Pertamina Patra Niaga RU Balikpapan dan Kilang Pertamina Balikpapan.

Ketua Panitia, Rian Pratama Pribadi, mengatakan bakti sosial ini menjadi rangkaian tasyakuran ulang tahun dinas BPAT II 2009 yang memasuki usia ke-17 tahun.

“Ini menjadi refleksi kami yang sudah berkarya 17 tahun di Pertamina. Kami ingin momentum ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga kesempatan berbagi kebahagiaan, kasih sayang dan keberkahan,” ujar Rian.

Lebih dari pencapaian pengabdian 17 tahun, ada nilai kebersamaan yang tumbuh sejak awal perjalanan sebagai insan teknik Pertamina.

Sebagian masih menjalankan tugas di Kilang Cilacap, sementara beberapa lainnya melanjutkan pengabdian di Pertamina Patra Niaga RU Balikpapan dan Kilang Pertamina Balikpapan. Jarak dan kesibukan tidak menghapus ikatan yang telah terbangun. Momentum ulang tahun dinas menjadi pengingat bahwa kebersamaan dapat terus dirawat melalui aksi sederhana, berbagi.

0d1a7647

Kali ini, kebersamaan itu diwujudkan dalam bentuk donasi bagi anak-anak Panti Asuhan Khoiru Ummah dan Rumah Yatim dan Dhu’afa – Al Husna . Bantuan yang diberikan berupa sejumlah kebutuhan pokok (sembako) serta uang tunai untuk mendukung kebutuhan anak-anak yang tinggal dan tumbuh bersama di panti.

Ustaz Eko dari Panti Asuhan Khoiru Ummah Cilacap menyampaikan apresiasi atas kepedulian para perwira Pertamina yang tergabung dalam BPAT II 2009.

Kepedulian ini menjadi bentuk rasa syukur yang diwujudkan dengan cara berbagi. “Syukur itu bisa diwujudkan dengan berbagi kepada anak-anak kami. Semoga menjadi keberkahan untuk semuanya dan menguatkan anak-anak yang sedang berjuang bersama di panti ini,” ungkap Ustaz Eko.

Bagi para perwira BPAT II 2009, 17 tahun pengabdian akhirnya menemukan makna yang lebih dalam di tempat sederhana ini. Bukan hanya tentang lamanya waktu bekerja, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang dapat ditinggalkan sepanjang perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Energi Surya Bikin Desa Makin Berdikari, Pertamina Perkuat Pemberdayaan Warga Cilacap

narastya, Cilacap – PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) Cilacap terus memperkuat komitmen dalam mendorong kemandirian masyarakat melalui program Desa Energi Berdikari (DEB).

Program pemberdayaan masyarakat berbasis energi baru terbarukan (EBT) ini telah dikembangkan di sejumlah wilayah, di antaranya DEB Kalijaran di Kecamatan Maos, DEB Dusun Bondan di Kecamatan Kampung Laut, serta DEB Kelurahan Kutawaru di Kecamatan Cilacap Tengah.

Keberhasilan pengembangan program tersebut disampaikan Vice President Community Involvement & Development (CID) Pertamina Patra Niaga, Dian Hapsari Firasati, dalam rangkaian Pertamina Media Xpose (Pertamax) Journey 2026 bersama 60 awak media nasional di DEB Kalijaran, Kamis (10/9/2026).

Menurut Dian, program DEB merupakan salah satu bentuk komitmen Pertamina menghadirkan energi yang tidak hanya mendukung aktivitas masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan.

“Melalui Desa Energi Berdikari, kami ingin memastikan bahwa pemanfaatan energi bersih dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun lingkungan,” ujar Dian.

Salah satu implementasi DEB yang dikembangkan berada di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos. Program ini berfokus pada pemberdayaan dan pendampingan petani melalui pemanfaatan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai inovasi pompa irigasi pertanian berbasis energi baru terbarukan.

PLTS di DEB Kalijaran berkapasitas 6,54 kilowatt peak (kWp). Pemanfaatan energi surya tersebut mampu menghasilkan penghematan biaya listrik hingga Rp45 juta, sekaligus mereduksi emisi karbon sebesar 8,98 ton CO₂e per tahun.

Tak hanya memberikan manfaat lingkungan, program ini juga berkontribusi pada peningkatan ekonomi masyarakat. Total pendapatan kelompok penerima manfaat dari program DEB Kalijaran mencapai sekitar Rp220 juta per tahun.

Dalam rangkaian kunjungan Pertamax Journey 2026, Pertamina bersama masyarakat juga melaksanakan panen raya jagung di DEB Kalijaran. Panen tersebut menjadi salah satu bukti nyata pemanfaatan energi bersih yang terintegrasi dengan aktivitas produktif masyarakat.

Energi Bersih Tingkatkan Kualitas Hidup Warga

Program DEB lainnya dikembangkan di Dusun Bondan, Kecamatan Kampung Laut. Di wilayah ini, Pertamina mendorong pemanfaatan energi bersih untuk meningkatkan akses listrik sekaligus mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Pemanfaatan PLTS tidak hanya untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mendukung berbagai aktivitas masyarakat, termasuk pendidikan, keagamaan, dan kegiatan ekonomi produktif.

PLTS di Bondan berkapasitas 16,2 kWp, dengan potensi penghematan biaya listrik mencapai Rp147 juta. Dari sisi lingkungan, program tersebut mampu memberikan kontribusi reduksi emisi karbon sebesar 22,23 ton CO₂e per tahun. Dari sisi ekonomi, pendapatan total kelompok penerima manfaat tercatat mencapai sekitar Rp12 juta per tahun.

Sementara itu, DEB di Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah, mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat pesisir secara berkelanjutan melalui pemanfaatan EBT untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

Pemanfaatan PLTS di Kutawaru antara lain digunakan untuk mendukung operasional bank sampah dan pompa aerasi pada Kampoeng Kepiting. Di sini, PLTS berkapasitas 13 kWp, dengan penghematan biaya listrik mencapai sekitar Rp27,4 juta. Program tersebut juga menghasilkan reduksi emisi karbon sebesar 17,84 ton CO₂e per tahun.

Dari sisi ekonomi, dampaknya terlihat dari total pendapatan kelompok yang mencapai sekitar Rp958 juta per tahun.

Dian menambahkan, secara keseluruhan Pertamina saat ini memiliki 154 program Desa Energi Berdikari yang berjalan di berbagai wilayah Indonesia. “Program tersebut terdiri atas 95 DEB Ketahanan Pangan, 20 DEB Pesisir Modern, dan 39 DEB Wisata Energi,” imbuhnya.

Executive General Manager RU Cilacap Hermawan Budiantoro menambahkan, keberhasilan berbagai program DEB di wilayah Cilacap menjadi bukti komitmen Pertamina untuk terus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

“Selain menjalankan tugas utama menyediakan energi terbaik bagi negeri, Pertamina juga memiliki komitmen untuk terus menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan,” kata Hermawan.

Ditegaskan, pemanfaatan EBT melalui program DEB diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan dampak berkelanjutan, baik terhadap ketahanan pangan, peningkatan ekonomi masyarakat, maupun kelestarian lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *